Ketika Sunnah Terkadang Mengabaikan Kewajiban: Sebuah Renungan Malam

Malam itu, seperti biasa, saya baru saja pulang kerja dan masih merasa cukup lelah. Namun, tiba-tiba ponsel bergetar, dan saya menerima pesan WhatsApp dari tetangga sekaligus teman dekat saya. “Ngopi sini, di belakang,” tulisnya. Tanpa banyak pikir, saya pun melangkah menuju pos ronda, yang terletak tidak jauh dari tempat saya. Sambil bersenda gurau dan menikmati secangkir kopi, kami berbincang tentang berbagai hal.

Di tengah obrolan santai itu, teman saya mengajak untuk ikut sholat tasbih yang diadakan dua minggu sekali. Saya mendengarnya dengan sedikit terkejut. "Sholat tasbih di jam segini?" gumam saya dalam hati. Dia menyebutkan bahwa acara tersebut dimulai pukul 11 malam dan, meski sudah cukup larut, sholat tasbih memang selalu dilakukan pada waktu tersebut.

Dengan berat hati, saya awalnya menolak dengan halus. Besok pagi saya harus bekerja, dan tentu saja, tidur lebih awal adalah pilihan yang lebih bijak. Namun, setelah beberapa detik berpikir, saya merasa ada yang kurang jika hanya melewatkannya. “Apa salahnya mencoba?” pikir saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk ikut, meskipun ada rasa ragu yang sedikit mengganggu.

ilustrasi sholat berjamaah

Begitu acara dimulai, saya sadar bahwa sholat tasbih memang tidak sebentar. Empat rakaat yang dilakukan dengan bacaan tasbih yang panjang membutuhkan sekitar 40 menit. Setelah itu, ada pembacaan sholawat dan Yasin yang semakin menambah durasi kegiatan tersebut. Saya lihat jam sudah menunjukkan pukul 12:30 malam ketika acara selesai. Kami pun melanjutkan dengan makan bersama sebagai bentuk silaturahmi.

Namun, di tengah-tengah acara tersebut, pikiran saya terus terbayang pada esok pagi. Saya khawatir kalau besok subuh, banyak yang tidak bisa datang ke masjid untuk sholat berjamaah. Seperti yang sering terjadi di lingkungan kami, kegiatan-kegiatan sunnah sering kali dilaksanakan dengan penuh semangat, sementara kewajiban seperti sholat berjamaah bagi laki-laki malah sering terabaikan.

Dan benar saja, keesokan paginya saya terbangun agak kesiangan dan tidak sampai sholat berjamaah di musola. Tentu saja, perasaan bersalah dan kecewa datang begitu saja. Mengapa justru sholat berjamaah yang merupakan kewajiban malah lebih sering ditinggalkan, sementara sholat sunnah yang seharusnya bisa dilakukan kapan saja malah lebih banyak dilaksanakan dengan penuh antusias?

Renungan malam itu seakan membawa saya pada sebuah pemahaman yang lebih dalam tentang prioritas dalam kehidupan beragama. Kita sering kali terjebak dalam rutinitas ibadah yang bersifat sunnah, tanpa menyadari bahwa kewajiban yang lebih utama justru sering terabaikan. Sholat berjamaah adalah kewajiban yang sudah jelas ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadits, sementara sholat sunnah, meskipun sangat dianjurkan, tidak boleh mengesampingkan kewajiban utama.

Hadits tentang Kewajiban Sholat Berjamaah

Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW bersabda:

"Sholat berjamaah lebih utama dibandingkan sholat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan sholat berjamaah, bahkan dibandingkan dengan sholat sunnah yang dikerjakan sendirian. Rasulullah SAW menekankan betapa pentingnya jamaah, terutama bagi laki-laki, untuk selalu hadir dalam sholat berjamaah di masjid.

Namun, kadang-kadang kita lebih terfokus pada amalan sunnah yang tidak ada batasan waktunya, dan mengabaikan kewajiban yang jelas dan terbatas waktunya. Sholat berjamaah adalah kewajiban yang tidak bisa ditunda atau dilupakan, dan meskipun ibadah sunnah seperti sholat tasbih dan sholawat memiliki keutamaan, kita harus ingat bahwa kewajiban tetap harus menjadi prioritas utama.

Kewajiban yang Menuntut Komitmen

Sebagai umat Muslim, kita diajarkan untuk selalu menempatkan kewajiban di tempat pertama. Kewajiban sholat berjamaah, misalnya, adalah cerminan dari komitmen kita terhadap agama, komunitas, dan disiplin diri. Kita harus bisa membedakan mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa dikerjakan di waktu lain.

Bahkan, dalam sebuah hadits lainnya, Rasulullah SAW juga mengingatkan kita tentang pentingnya sholat berjamaah:

"Barang siapa yang mendengar azan dan tidak mendatanginya, maka tidak ada sholat baginya, kecuali dengan alasan uzur (halangan)."
(HR. Muslim)

Dalam hal ini, sholat berjamaah bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan sarana untuk menjaga ikatan silaturahmi antar sesama Muslim. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengabaikannya hanya karena tergoda untuk melaksanakan ibadah sunnah di waktu yang tidak tepat.

Refleksi Diri

Pada akhirnya, pengalaman saya malam itu adalah sebuah pelajaran berharga. Ketika kita memilih untuk fokus pada sesuatu yang bersifat sunnah, kita harus ingat bahwa kewajiban itu lebih utama. Mungkin ada baiknya kita lebih bijak dalam mengatur waktu ibadah, agar kita tidak terjebak dalam rutinitas yang mengesampingkan kewajiban.

Kita bisa menjaga keseimbangan antara ibadah sunnah dan kewajiban dengan lebih memperhatikan waktu dan prioritas. Sholat berjamaah, meskipun tidak selalu mudah, adalah kewajiban yang sangat besar ganjarannya. Jangan sampai kita mengabaikan kewajiban yang lebih utama demi sesuatu yang, meskipun baik, bukanlah yang paling utama dalam kehidupan kita.

Jadi, mari kita evaluasi kembali cara kita dalam memprioritaskan ibadah. Sunnah tetap penting, tetapi kewajiban lebih utama. Dengan begitu, kita bisa menjadi umat yang lebih taat, disiplin, dan menjaga keseimbangan dalam beribadah.

Posting Komentar untuk "Ketika Sunnah Terkadang Mengabaikan Kewajiban: Sebuah Renungan Malam"